Dalam proses kepemilikan tanah di Indonesia, tidak semua bidang tanah langsung memiliki sertifikat resmi dari BPN. Pada tahap awal inilah SKT tanah sering menjadi dokumen penting yang berperan sebagai pengakuan administratif atas penguasaan lahan.
Bagi masyarakat awam, istilah ini kerap memunculkan pertanyaan: apa itu SKT tanah, seberapa kuat kedudukannya, dan apakah bisa digunakan untuk proses sertifikasi? Artikel ini akan membahasnya secara ringkas, jelas, dan relevan bagi Anda yang sedang mempertimbangkan kepemilikan atau investasi properti!
Memahami Apa Itu SKT Tanah

Jika dijelaskan secara sederhana, SKT tanah adalah surat keterangan resmi yang diterbitkan oleh pihak desa atau kelurahan untuk menerangkan siapa pihak yang menguasai sebidang tanah tertentu.
Dokumen ini biasanya digunakan untuk tanah yang:
- Belum terdaftar di Badan Pertanahan Nasional (BPN)
- Belum memiliki SHM atau HGB
- Masih berada pada tahap pengakuan administratif di tingkat lokal
Karena itu, definisi SKT tanah dapat dipahami sebagai bukti awal penguasaan fisik tanah, bukan sertifikat kepemilikan penuh.
Baca Juga: Rumah Minimalis Modern: Ciri, Fasilitas, dan Inspirasi Desainnya
Fungsi SKT Surat Keterangan Tanah
Meski bersifat administratif, SKT surat keterangan tanah memiliki fungsi yang cukup krusial dalam praktik pertanahan di Indonesia.
1. Dokumen Pendukung Sertifikat Resmi
SKT sering digunakan sebagai dokumen pendukung dalam proses pendaftaran tanah ke BPN. Tanpa dokumen ini, proses verifikasi riwayat tanah biasanya akan lebih sulit.
2. Bukti Kepemilikan Lahan
SKT mencatat sejarah penguasaan tanah, termasuk informasi pemilik sebelumnya dan keterangan bahwa tanah tidak dalam sengketa di tingkat desa.
3. Pendukung Transaksi Tanah
Pada tanah yang belum bersertifikat, SKT kerap dijadikan dasar administratif dalam transaksi jual beli, tentunya dengan kehati-hatian dan pengecekan lanjutan.
4. Pelengkap Administrasi Perizinan
Beberapa pengurusan izin bangunan atau usaha masih menerima SKT sebagai dokumen pendukung selama status tanah belum bersertifikat.
Baca Juga: Apa Itu BPHTB? Simak Informasi Lengkapnya di Sini!
Bagaimana Cara Membuat SKT Tanah?

Bagi yang ingin mengetahui cara membuat SKT tanah, prosesnya relatif tidak rumit karena dilakukan langsung di wilayah administrasi setempat.
Tahap Administrasi Awal
Pemohon perlu menyiapkan dokumen identitas dan bukti penguasaan tanah, seperti:
- KTP dan KK
- Surat permohonan
- Bukti pembayaran PBB
- Dokumen riwayat tanah (girik, petok D, atau surat waris)
- Surat pernyataan tidak sengketa
Tahap Verifikasi Lapangan
Pihak desa akan melakukan peninjauan lokasi dan pengukuran tanah. Penetapan batas dilakukan dengan melibatkan saksi dari lingkungan sekitar.
Tahap Penerbitan SKT
Jika data dinyatakan sesuai, desa atau kelurahan akan menerbitkan SKT yang ditandatangani pejabat berwenang dan memiliki kekuatan administratif di tingkat lokal.
Berapa Biaya Pembuatan SKT Tanah di BPN?
Saat mengurus legalitas tanah, penting untuk memahami bahwa biaya yang dikeluarkan tidak hanya satu jenis. Ada beberapa komponen biaya yang muncul di setiap tahapan proses, mulai dari pendaftaran hingga penerbitan sertifikat. Berikut gambarannya:
1. Biaya Pendaftaran Awal
Langkah pertama adalah mendaftarkan bidang tanah ke kantor ATR/BPN setempat. Pada tahap ini, pemohon dikenakan biaya administrasi pendaftaran sebesar Rp50.000 per bidang tanah sesuai ketentuan yang berlaku.
2. Biaya Pengukuran dan Pemetaan Tanah
Setelah pendaftaran, BPN akan melakukan pengukuran dan pemetaan batas tanah. Besaran biaya pengukuran ditentukan berdasarkan luas lahan dengan rumus tertentu, antara lain:
- Luas tanah hingga 10 hektare
Tarif Ukur (TU) = (Luas Tanah / 500 × HSBKu) + Rp100.000 - Luas tanah di atas 10–1.000 hektare
TU = (Luas Tanah / 4.000 × HSBKu) + Rp14.000.000 - Luas tanah di atas 1.000 hektare
TU = (Luas Tanah / 10.000 × HSBKu) + Rp134.000.000
Sebagai catatan, HSBKu (Harga Satuan Biaya Khusus) untuk pengukuran tanah saat ini ditetapkan sebesar Rp80.000, yang mencakup biaya bahan dan honor petugas.
3. Biaya Transportasi dan Operasional Petugas
Selain biaya teknis, terdapat pula biaya transportasi, akomodasi, dan konsumsi petugas BPN saat melakukan survei lapangan. Umumnya, biaya ini diperkirakan sekitar Rp250.000, meskipun nilainya dapat berbeda tergantung lokasi dan kebijakan daerah.
4. Biaya Pemeriksaan Tanah oleh Panitia
Untuk permohonan hak seperti Hak Milik (HM), HGB, Hak Pakai, atau pengakuan hak atas tanah, pemeriksaan dilakukan oleh Panitia A.
Perhitungan biayanya menggunakan rumus:
- TPA = (Luas Tanah / 500 × HSBKPa) + Rp350.000
Dengan HSBKPa sebesar Rp67.000, yang mencakup biaya sidang pemeriksaan tanah hingga penerbitan keputusan hak dan sertifikat.
5. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
Di luar biaya BPN, pemohon juga perlu memperhatikan kewajiban BPHTB. Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009, tarif BPHTB ditetapkan sebesar:
- 5% × (Nilai Perolehan Objek Pajak – NPOPTKP)
Besaran NPOPTKP berbeda di tiap daerah, namun secara nasional ditetapkan minimal:
- Rp60 juta untuk perolehan biasa
- Rp300 juta untuk waris atau hibah wasiat
Perlu diketahui, tidak semua tanah dikenakan BPHTB. Tanah dengan nilai tertentu atau kebijakan daerah tertentu bisa mendapatkan pembebasan.
6. Contoh Simulasi Total Biaya
Sebagai ilustrasi, misalnya sebuah bidang tanah seluas 500 m² didaftarkan ke BPN.
Perkiraan biaya yang muncul:
- Pendaftaran: Rp50.000
- Pengukuran: Rp180.000
- Pemeriksaan tanah: Rp417.000
- Transportasi dan operasional: Rp250.000
Total biaya administrasi BPN: Rp897.000
Sementara untuk BPHTB, apabila nilai perolehan objek pajak masih berada di bawah batas pembebasan daerah setempat, maka BPHTB tidak perlu dibayarkan.
7. Biaya Tambahan yang Perlu Diantisipasi
Apabila tanah diperoleh melalui jual beli, pemohon juga perlu menyiapkan biaya pembuatan Akta Jual Beli (AJB) di PPAT. Besarannya bervariasi, namun umumnya maksimal 1% dari nilai transaksi.
SKT Tanah dan Pentingnya Kepastian Legalitas Properti
Memahami SKT tanah menjadi langkah penting sebelum melangkah ke proses sertifikasi atau transaksi properti yang lebih besar. Dokumen ini bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari proses menuju kepastian hukum atas kepemilikan tanah.
Inilah alasan mengapa kawasan hunian modern seperti CitraLand Surabaya menaruh perhatian besar pada aspek legalitas sejak awal pengembangan. Dengan perencanaan matang, tata ruang yang jelas, dan proses administrasi yang tertib, CitraLand Surabaya menghadirkan hunian yang tidak hanya nyaman, tetapi juga memberikan rasa aman dari sisi hukum properti.
Bagi Anda yang menginginkan hunian dengan fondasi legal yang kuat serta nilai investasi jangka panjang, memilih kawasan terencana seperti CitraLand Surabaya adalah langkah yang bijak!
